Scroll untuk baca artikel
Example 600x300
Kabupaten Kampar

Tragedi Berulang di Sungai Tapung: Limbah Diduga Biang Kematian Massal Ikan Keramba

98
×

Tragedi Berulang di Sungai Tapung: Limbah Diduga Biang Kematian Massal Ikan Keramba

Sebarkan artikel ini

Republikmata.co.id, TAPUNG HILIR (KAMPAR), – Sungai Tapung yang membelah wilayah Kecamatan Tapung Hilir kembali menjadi saksi tragedi lingkungan. Ribuan ekor ikan milik petani keramba dilaporkan mati secara mendadak, diduga kuat akibat pencemaran limbah yang mencemari aliran sungai tersebut.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada Senin malam (30/03/2026) sekitar pukul 23.00 WIB di Desa Sekijang. Dalam waktu singkat, ikan-ikan yang berada di dalam keramba mati massal, mengakibatkan kerugian besar bagi para petani.

Example 600x300

Dampak tragedi ini tidak hanya dirasakan warga Desa Sekijang. Informasi yang dihimpun tim media menyebutkan, puluhan keramba di Desa Koto Aman dan Desa Kota Garo juga ikut terdampak. Ribuan ikan, termasuk jenis baung dan berbagai ikan konsumsi lainnya, ditemukan mati mengapung di permukaan sungai.

Berdasarkan keterangan warga, peristiwa ini diduga berkaitan dengan tingginya curah hujan yang terjadi pada Minggu sebelumnya. Luapan air Sungai Tapung disebut-sebut membawa campuran limbah yang diduga berasal dari aktivitas peremajaan (replanting) kebun kelapa sawit di sekitar wilayah Desa Sekijang.

“Air sungai berubah warna dan berbau. Tidak lama setelah itu, ikan langsung mati satu per satu,” ungkap salah seorang petani keramba yang enggan disebutkan namanya.

Kerugian yang dialami warga tidak main-main. Puluhan ton ikan yang siap panen harus lenyap dalam semalam. Harapan yang sudah dirawat berbulan-bulan sirna begitu saja.

Yang lebih memprihatinkan, kejadian ini bukan yang pertama. Warga menyebut, tragedi serupa sudah terjadi hingga tiga kali dalam beberapa waktu terakhir. Namun hingga kini, belum ada pihak yang secara tegas dimintai pertanggungjawaban atas dugaan pencemaran tersebut.

“Kami sudah lelah. Ini bukan sekali dua kali. Tapi tidak pernah ada solusi jelas,” keluh seorang nelayan.

Para petani dan nelayan mendesak Pemerintah Kabupaten Kampar, khususnya melalui Dinas Lingkungan Hidup, untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh. Mereka meminta agar sumber pencemaran diusut tuntas dan pelaku diberikan sanksi tegas.

Sementara itu, Camat Tapung Hilir, Nurmansyah, S.STP., MM, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengaku telah menerima laporan dari masyarakat dan berharap ada langkah cepat dari pihak terkait untuk menangani persoalan ini.

“Kami berharap instansi berwenang segera melakukan pengecekan di lapangan dan mencari penyebab pastinya, agar kejadian ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Namun hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi yang dilakukan awak media kepada Refizal Purna selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kampar melalui pesan WhatsApp ke nomor 08526349xxxx terkait dugaan pencemaran lingkungan tersebut belum mendapatkan jawaban.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya sektor perikanan rakyat yang terancam, tetapi juga keberlangsungan ekosistem Sungai Tapung secara keseluruhan.**

Example 600x300
error: Content is protected !!