KAMPAR – Kejadian pencemaran lingkungan di aliran Sungai Tapung yang menyebabkan rusaknya ekosistem perairan dan matinya ribuan ikan beberapa hari lalu menuai sorotan keras dari pakar lingkungan hidup, Kamis (05/03/2026).
Pakar lingkungan Dr. Elviriadi S.Pi M.Si saat dihubungi awak media menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang diduga dipicu oleh aktivitas pembuangan limbah perusahaan ke aliran sungai.
Menurutnya, pencemaran tersebut telah berdampak serius terhadap ekosistem Sungai Tapung serta kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sungai tersebut.
“Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Aktivitas pembuangan limbah oleh pihak perusahaan diduga kuat menjadi penyebab rusaknya ekosistem air di Sungai Tapung hingga mengakibatkan ribuan ikan mati,” ujarnya.
Dr. Elviriadi menilai, peristiwa tersebut tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa, melainkan indikasi adanya kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh korporasi.
Ia bahkan meyakini bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan aktivitas perusahaan yang berada di sekitar wilayah aliran sungai tersebut.
“Kalau diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, biasanya ujung-ujungnya tidak jelas. Sering kali muncul alasan belum pasti, atau ikan mati bukan karena itu. Padahal masyarakat sudah tahu, ini bukan rahasia umum lagi. Biasanya kalau musim hujan limbah dibuang ke sungai. Ini sering terjadi di Kampar bahkan di Riau,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Dr. Elviriadi mendorong peran masyarakat adat dan ninik mamak untuk mengambil sikap tegas terhadap perusahaan yang diduga mencemari sungai tersebut.
Ia juga berencana turun langsung ke lokasi bersama tokoh adat guna membahas pemberian sanksi adat kepada pihak perusahaan.
“Nanti kita kumpulkan ninik mamak. Saya juga akan turun ke Desa Sekijang. Kita akan berikan sanksi adat kepada perusahaan tersebut dan membentuk Panglima Pengawas serta Penjaga Sungai Tapung untuk memantau aktivitas perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu nelayan Desa Sekijang saat dikonfirmasi menyampaikan kekecewaannya atas tercemarnya air Sungai Tapung beberapa hari yang lalu.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai penyebab pasti maupun langkah penanganan dari pihak terkait.
“Kami tadi sudah bertemu dengan pihak perusahaan. Namun pihak perusahaan menyampaikan masih harus menunggu informasi dan keputusan dari atasannya,” ungkapnya.
Para Nelayan Desa Sekijang berharap persoalan ini dapat segera mendapat perhatian serius dari pihak perusahaan maupun pemerintah, sehingga penyebab kematian ikan dan kerusakan ekosistem Sungai Tapung dapat segera terungkap serta tidak terulang kembali di masa mendatang.**















